Berita  

Panitia Gelisah, Jamaah Cemas: Anggaran Rehab Masjid Baiturrahim Jeunieb Terancam Batal

BIREUEN — Kabar mengenai terancam batalnya anggaran rehabilitasi Masjid Baiturrahim di Gampong Matang Nibong, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, membuat panitia pembangunan dan jamaah resah.

Masjid yang telah berdiri sejak 1984 itu hingga kini belum sepenuhnya selesai dan masih menghadapi berbagai persoalan fisik. Kondisi atap yang mulai keropos, kebocoran saat hujan, lantai yang licin, serta bagian bangunan yang belum memiliki plafon menjadi persoalan yang terus dirasakan jamaah.

Dari halaman masjid, kondisi bangunan tampak membutuhkan perhatian serius. Ketika hujan turun, air disebut masuk melalui bagian atap dan merembes ke area salat. Kondisi tersebut membuat jamaah harus berhati-hati dan terkadang memindahkan posisi saf agar tidak terkena air.

“Kalau hujan, bocor di mana-mana. Jamaah harus geser saf karena sajadah basah. Padahal ini masjid kecamatan, seharusnya menjadi contoh,” ujar salah seorang panitia pembangunan masjid.

Masjid Baiturrahim memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi dan selama puluhan tahun menjadi salah satu tempat ibadah penting bagi masyarakat Jeunieb dan sekitarnya.
Panitia Berharap Anggaran Tidak Dibatalkan
Kegelisahan semakin terasa setelah muncul informasi mengenai kemungkinan batalnya anggaran rehabilitasi masjid.

Bagi panitia dan jamaah, rehabilitasi bukan sekadar memperindah bangunan. Perbaikan dinilai menyangkut aspek keselamatan dan kenyamanan masyarakat yang menggunakan masjid setiap hari.

Panitia berharap pihak-pihak terkait dapat memberikan kejelasan mengenai status anggaran tersebut. Jika memang terdapat persoalan administrasi atau teknis, mereka berharap dapat dicarikan solusi sehingga rencana rehabilitasi tetap dapat dilaksanakan sesuai ketentuan.

Keselamatan Jamaah Menjadi Perhatian
Kondisi lantai yang licin akibat rembesan air juga menjadi perhatian jamaah. Panitia menyebut pernah terjadi kecelakaan yang menyebabkan seorang jamaah terpeleset di area masjid dan meninggal dunia.
Peristiwa tersebut, menurut panitia, semakin memperkuat kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi bangunan.

Namun, informasi mengenai kejadian tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak keluarga, pengurus masjid, serta sumber resmi agar kronologi dan penyebabnya dapat diberitakan secara akurat.

Masjid Kecamatan, Wajah Pelayanan Umat
Masjid Baiturrahim bukan hanya tempat ibadah. Sebagai masjid yang berada di wilayah Kecamatan Jeunieb, keberadaannya juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Karena itu, masyarakat berharap persoalan rehabilitasi tidak berlarut-larut.
“Yang kami harapkan bukan kemewahan. Kami hanya ingin masjid ini aman, nyaman, tidak bocor ketika hujan, dan layak digunakan jamaah,” ujar sumber dari lingkungan masjid.
Pers Siber Indonesia, melalui Ketua Tgk. Rabi, mendorong agar persoalan tersebut dapat dilihat secara objektif dan terbuka. Status anggaran, proses pengusulan, alasan apabila terjadi pembatalan, serta langkah pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini penting disampaikan kepada masyarakat.

Publik juga berhak mengetahui apakah anggaran rehabilitasi tersebut benar-benar telah dialokasikan, pada tahap mana prosesnya, serta apa kendala yang menyebabkan munculnya kekhawatiran pembatalan.

Pada akhirnya, persoalan Masjid Baiturrahim Jeunieb bukan semata tentang bangunan. Ini menyangkut keselamatan jamaah, kepastian program pemerintah, transparansi anggaran, dan kebutuhan masyarakat terhadap tempat ibadah yang layak.

Masyarakat kini menunggu kejelasan dari pihak terkait: apakah rehabilitasi Masjid Baiturrahim Jeunieb akan tetap dilaksanakan, atau justru anggarannya benar-benar dibatalkan?