Berita  

Semua Amal Kebaikan Membutuhkan Niat

Aceh Besar — Niat adalah kata yang selalu harus hadir dalam setiap apapun yang kita laksanakan. Wudhuk butuh kepada niat saat membasuh wajah, shalat butuh kepada niat ketika takbiratul ihram, puasa baik sunnah maupun wajib butuh kepada niat, zakat, haji dan semua amal kebaikan membutuhkan niat.

Niat yang baik akan menjadikan setiap langkah dan gerak akan menjadi pahala dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dosen Pascasarjana IIQ Jakarta, Ustaz Dr Nurkhalis Muchtar, MA menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Darul Falah Kemukiman Cot Keu Eng, Kecamatan Kuta Baro, 6 Oktober 2026 bertepatan 5 Jumadil Awwal 1448 Hijriah.

Sahabat Rasulullah saw yang digelar dengan al Faruq yaitu Umar Ibnul Khattab berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya segala perbuatan sesuai dengan niat, dan setiap individu akan dibalas sesuai dengan niat, maka barangsiapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia yang ia peroleh atau perempuan yang akan dia nikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ustaz Dr Nurkhalis Muchtar menjelaskan, Imam Abdullah al Haddad yang banyak menyadur pandangan Imam Al Ghazali dalam dua kitab penting keduanya Risalah Mu’awanah dan Ihya’ Ulumuddin menyatakan bahwa sejatinya setiap insan menghadirkan niat, meluruskan niat, memperbaiki niat dan memperbaharuai niat sehingga bisa sampai pada derajat orang-orang yang ikhlas dan dicintai oleh Allah Swt karena sejatinya setiap kita adalah apa yang kita niatkan.

“Mari senantiasa berniat baik untuk selalu berbuat baik dan tentunya berjumpa dengan orang-orang yang senantiasa berniat baik,” pesannya.

Menurut Ustaz Dr Nurkhalis Muchtar, semua hal yang berkaitan dengan Rasulullah saw adalah penting dan istimewa, karena beliau adalah suri tauladan umat manusia. Namun di antara pesan penting dari Rasulullah saw, hadis itu disebutkan oleh para ulama lintas disiplin keilmuan hadis, fikih, tafsir dan ulama tasauf atau tazkiyah.

Hadis itu juga oleh Imam al Bukhari disebut pada tujuh tempat dalam kitab sahihnya, Imam Muslim juga menyebutnya, Imam Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, terdapat dalam Kutub Sittah, bahkan Imam Ahmad Ibn Hanbal juga menyebutkan dalam Musnadnya, Al Baihaqi, Daruqutni juga menyebut hadis ini dalam kitab mereka.

Tidak ketinggalan Imam Nawawi juga menulis hadis tersebut di awal kitab-kitabnya seperti: Arbain Nawawiyah, Al Azkar Nawawiyah dan Kitab Riyadhussalihin. Saking penting hadis itu Imam Abu Daud misalnya menyebutkan bahwa hadis itu setengah dari Islam karena ada amalan yang bisa dilihat dengan pandangan mata, adapula yang tidak nampak dilihat yaitu amalan hati.

Imam Syafi’i dan Imam Ahmad juga menyebutkan bahwa hadis tersebut sepertiga dari amalan dalam Islam, karena setiap amal perbuatan terdiri dari amalan badan, hati dan amalan lisan.

“Sehingga, tidak berlebihan apabila Imam Nawawi yang dikenal dengan kezuhudannya menyatakan bahwa semestinya bagi siapapun yang melaksanakan kebaikan dan menuntut ilmu semestinya meluruskan niat hanya karena Allah Swt dengan mengikhlaskan setiap amal kebaikan,” pungkas penulis buku Jejaring Sanad Ulama jilid 1, 2, dan 3 ini.*