Berita  

Rupiah “Berdarah-darah” di Saat Mata Uang ASEAN Menguat, Waketum PKN Desak Pemerintah Lakukan Penyelamatan Darurat

Jakarta, 30 May 2026 – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang terus merosot hingga menyentuh titik terendahnya memantik reaksi dari berbagai kalangan. Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) menilai kondisi pelemahan nilai tukar rupiah saat ini sudah masuk dalam fase krisis yang membutuhkan penanganan darurat, bukan sekadar retorika penenang dari pemerintah.

Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional (Pimnas) PKN, Denny Charter, menegaskan bahwa pelemahan Rupiah saat ini tidak bisa lagi dianggap sebagai dinamika pasar biasa. Ia membandingkan kondisi Indonesia yang justru terpuruk di saat negara-negara tetangga berhasil memperkuat nilai tukar mereka.
“Angka ini bukan sekadar fluktuasi harian; ini adalah rekor terburuk rupiah yang pernah dicatatkan sepanjang sejarah perjalanan ekonomi republik ini,” ujar Denny Charter dalam keterangannya di Jakarta, [Sabtu, 30 May].

Denny menyoroti anomali yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. “Di saat Rupiah terseok-seok, mata uang negara-negara tetangga di ASEAN justru sedang menunjukkan kekuatannya. Baht Thailand, Ringgit Malaysia, hingga Dolar Singapura menguat menantang hegemoni Dolar AS. Pertanyaannya: mengapa hanya kita yang berdarah-darah?” tegasnya.

Lebih lanjut, Denny memperingatkan bahwa efek domino dari anjloknya Rupiah ini akan menghantam langsung urat nadi perekonomian nasional hingga ke masyarakat kelas bawah. Menurutnya, pelemahan ini memicu membengkaknya beban utang luar negeri, meroketnya biaya produksi akibat mahalnya bahan baku impor, serta menciptakan ketidakpastian iklim dunia usaha dan investasi.
“Di akar rumput, ancaman lonjakan harga kebutuhan pokok sudah di depan mata. Ini akan menjadi mimpi buruk yang siap mengetuk pintu setiap rumah tangga,” tambah Denny.

Melihat kondisi tersebut, Denny mendesak pemerintah untuk bersikap jujur dan transparan kepada publik serta pasar. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang kerap memberikan narasi optimisme berlebih di tengah krisis nyata.
“Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pemerintah tidak boleh terus *denial*. Berhentilah berlindung di balik tameng retorika bahwa ‘fundamental ekonomi kita masih kuat’ atau ‘ini hanya sentimen global sesaat’. Menyangkal luka yang sedang berdarah hebat tidak akan menghentikan pendarahannya; itu hanya akan mempercepat kehancuran,” kritik tokoh politik muda ini.

Sebagai penutup, Waketum Pimnas PKN ini menuntut adanya intervensi ekonomi yang nyata dan terukur dari pemangku kebijakan, termasuk Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.
“Ketika angka-angka sudah berteriak dan pasar telah kehilangan kepercayaannya, penyangkalan adalah bentuk arogansi yang berbahaya. Dibutuhkan langkah penyelamatan darurat, intervensi yang terukur, dan di atas segalanya—keberanian untuk mengakui krisis ini apa adanya,” pungkas Denny Charter.