Banda Aceh — Ibadah qurban memiliki makna yang sangat luas, tidak hanya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt, tetapi juga sebagai sarana memperkuat kepedulian sosial dan membersihkan akhlak di tengah masyarakat.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Walidy Tgk. Bustaman Usman, MA menyampaikan hal itu dalam khutbah Idul Adha di Masjid An-Nur TVRI Aceh, Gampong Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, 10 Dzulhijjah 1447 bertepatan dengan 27 Mei 2026.
Menurutnya, setidaknya terdapat dua hikmah utama dalam ibadah qurban. Pertama, hikmah vertikal dan horizontal. Secara vertikal, qurban menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sementara secara horizontal, daging qurban dapat dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan, sehingga melahirkan solidaritas dan kesetiakawanan sosial.
“Hikmah kedua mencakup aspek sosial, moral, dan spiritual,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara sosial, qurban berperan dalam membangun kebersamaan dan pemerataan, terutama bagi masyarakat yang jarang menikmati daging dalam keseharian. Dari sisi moral, qurban mengingatkan bahwa harta yang dimiliki manusia hanyalah titipan Allah SWT, yang di dalamnya terdapat hak orang lain melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, dan qurban.
Sementara itu, dari sisi spiritual, qurban dimaknai sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbaiki hubungan antarsesama. Mengutip pandangan Imam Ghazali, ia menyebutkan, penyembelihan hewan qurban menjadi simbol penyembelihan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti rakus, tamak, dan serakah.
Lebih lanjut, Walidy Bustaman juga menyampaikan tujuh pesan akhlak yang terkandung dalam ibadah qurban.
Pertama, kepada para pemimpin agar menjadi teladan dalam berqurban, tidak hanya secara fisik tetapi juga dengan menanggalkan sifat-sifat buruk dalam kepemimpinan.
Kedua, kepada para pengusaha dan pedagang agar meninggalkan praktik kecurangan, menjunjung tinggi kejujuran dalam berusaha, dan menghindari riba.
Ketiga, kepada aparat penegak hukum untuk menjauhkan diri dari praktik suap, mafia hukum, dan menjunjung tinggi keadilan.
Keempat, kepada para pendidik agar melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus berakhlak mulia.
Kelima, kepada orang tua agar meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar dalam mendidik anak dengan penuh kesungguhan dan nilai-nilai keimanan.
Keenam, kepada anak-anak agar meneladani ketaatan Nabi Ismail AS kepada perintah Allah serta penghormatan kepada orang tua.
Ketujuh, kepada seluruh umat Islam untuk menjadikan qurban sebagai momentum meningkatkan ibadah, seperti shalat malam, sedekah, dan mengabdikan diri dalam melayani umat.
“Ibadah qurban mengajarkan kita untuk mengorbankan ego, harta, dan kepentingan pribadi demi meraih ridha Allah Swt,” pungkas alumni Dayah Istiqamatuddin Darul Muarrif Lam Ateuk, Aceh Besar ini.
.














