JAKARTA — Kepala Bagian Manajemen Strategi Komunikasi Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementerian Luar Negeri RI, Pilar Wirotama, menyoroti tantangan komunikasi pemerintah di tengah karakter audiens yang semakin beragam dan kompleks.
Pilar menyampaikan hal itu dalam SPS Workshop Series #36 bertema “Pemanfaatan AI untuk Penyusunan Proposal Marketing Bisnis Pers” di Hall Dewan Pers, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Dalam paparannya, ia membahas perspektif institusi dan ekspektasi terhadap mitra media.
Menurut Pilar, komunikasi mengenai isu-isu teknis, termasuk kebijakan fiskal dan kebijakan publik lainnya, menghadapi tantangan karena harus dapat dipahami oleh audiens dengan latar belakang dan tingkat pemahaman yang berbeda. Pada saat yang sama, komunikasi pemerintah dituntut mampu menjaga kepercayaan publik.
“Ancaman dalam komunikasi bukan hanya soal bagaimana sebuah informasi di-framing, tetapi juga menyangkut autentisitas informasi yang disampaikan,” ujar Pilar.
Ia menjelaskan, kecepatan arus informasi di ruang digital membuat publik memiliki banyak sumber informasi sekaligus. Kondisi tersebut menuntut lembaga pemerintah dan mitra media tidak hanya menyampaikan informasi secara menarik, tetapi juga memastikan informasi yang disampaikan memiliki dasar yang jelas dan dapat dipercaya.
Pilar menilai media memiliki peran penting dalam menjembatani informasi institusi dengan masyarakat. Karena itu, hubungan antara pemerintah dan perusahaan pers perlu dibangun melalui pemahaman terhadap kebutuhan komunikasi, karakter audiens, serta kepentingan publik.
Dalam konteks tersebut, pemanfaatan teknologi seperti AI dapat menjadi alat pendukung komunikasi. Namun, teknologi tetap harus digunakan secara bertanggung jawab agar tidak mengorbankan akurasi, konteks, dan kredibilitas informasi.
“Kolaborasi antara institusi pemerintah dan media dapat menghasilkan komunikasi publik yang lebih efektif sekaligus tetap menjaga kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.














