Aceh Besar — Pimpinan Dayah Muda Indrapuri sekaligus Ketua Majelis Akreditasi Dayah Aceh, Tgk. Marbawi Yusuf, SH, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Istiqamah Kemukiman Baet, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar, Jumat (21/8/2026) bertepatan dengan 8 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Tgk. Marbawi Yusuf mengangkat tema kemerdekaan sejati, dengan mengajak umat Islam memaknai kemerdekaan tidak hanya sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga sebagai upaya membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu, dosa, maksiat, kesyirikan, serta segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Allah SWT.
Menurutnya, kemerdekaan dan kemenangan pada hakikatnya merupakan anugerah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya bercita-cita memperoleh kebebasan di dunia, tetapi juga harus berusaha meraih kemerdekaan yang hakiki di akhirat, yakni terbebas dari siksa neraka dan memperoleh keselamatan serta kenikmatan surga.
“Inilah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan sekadar memiliki harta yang banyak, jabatan yang tinggi, rumah yang megah, atau kehidupan dunia yang serba cukup. Kemenangan terbesar adalah ketika Allah menyelamatkan kita dari neraka dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kemerdekaan sejati pertama-tama diwujudkan melalui iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Kemerdekaan seorang mukmin dimulai dari kebebasan hatinya dari penghambaan kepada selain Allah.
Manusia mungkin secara lahiriah telah merdeka, tetapi apabila hatinya diperbudak oleh hawa nafsu, harta, popularitas, jabatan, maupun keinginan manusia, maka sesungguhnya ia belum merasakan kemerdekaan yang hakiki.
Menurut Tgk. Marbawi, kemerdekaan seorang hamba belum sempurna apabila dirinya masih diperbudak oleh dosa dan maksiat.
Karena itu, umat Islam harus berusaha memerdekakan mata dari pandangan yang haram, telinga dari mendengar sesuatu yang dilarang Allah, serta lisan dari dusta, fitnah, ghibah, namimah, caci maki, dan ucapan yang menyakiti orang lain.
Demikian pula tangan harus dibebaskan dari mengambil hak orang lain, kaki dari melangkah menuju kemaksiatan, serta perut dari makanan dan minuman yang haram maupun syubhat.
Ia mengingatkan, jangan sampai masyarakat merayakan kemerdekaan secara lahiriah, tetapi pada saat yang sama lisan masih “menjajah” kehormatan orang lain, tangan masih merampas hak sesama, dan hati masih dikuasai iri, dengki, kesombongan, serta kebencian.
Kemerdekaan yang sebenarnya, katanya, adalah ketika seseorang mampu mengatakan “tidak” kepada hawa nafsu ketika hawa nafsu mengajaknya kepada kemaksiatan.
“Ketika ada kesempatan berbuat dosa tetapi kita meninggalkannya karena takut kepada Allah, saat itulah kita sedang belajar menjadi manusia merdeka. Ketika kita mampu menahan amarah, padahal kita mampu membalas, itulah kemerdekaan jiwa. Ketika kita mampu memaafkan orang lain, padahal kita mempunyai kesempatan untuk membalas, itulah kemuliaan akhlak,” pesannya.
Untuk mencapai kemerdekaan sejati, seorang mukmin harus memiliki kesabaran. Para ulama menjelaskan bahwa kesabaran mencakup tiga hal, yaitu sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, dan sabar menghadapi musibah serta ujian kehidupan.
Kesabaran, menurutnya, bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah tetap teguh berada di jalan Allah meskipun menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan.
Ketakwaan merupakan kemerdekaan yang membebaskan manusia dari perbudakan dunia menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Orang bertakwa bukan berarti orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, ketika melakukan kesalahan, ia segera menyadari, bertaubat, dan kembali kepada Allah SWT. “Jangan biarkan dosa menjadi belenggu yang terus kita bawa sampai mati,” tegasnya.
Tgk. Marbawi juga mengingatkan bahwa salah satu bentuk perjuangan seorang mukmin adalah bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan menjaga diri dari dosa. Jihad dalam makna luas merupakan kesungguhan dalam menaati Allah dan memperjuangkan kebaikan sesuai tuntunan syariat.
Lebih dari itu, setiap Muslim harus mempersiapkan diri untuk memperoleh kemerdekaan terbesar, yaitu dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga Allah SWT.
Karena itu, momentum kemerdekaan bangsa hendaknya dijadikan kesempatan memperbarui kemerdekaan diri. Bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang merdeka jiwanya: manusia yang beriman, bertakwa, jujur, amanah, sabar, berakhlak mulia, menghormati hak orang lain, dan takut kepada Allah SWT.
“Kemerdekaan bangsa harus kita isi dengan ketaatan. Kemerdekaan harus kita isi dengan keadilan. Kemerdekaan harus kita isi dengan persaudaraan. Kemerdekaan harus kita isi dengan menjaga amanah. Dan kemerdekaan harus kita arahkan menuju keridhaan Allah SWT,” pungkas Tgk. Marbawi Yusuf.*














