Berita  

Revitalisasi Nilai Panglima Polem IX, Mahasiswa dan JASA Aceh Besar Bangun Pendidikan Politik Berbasis Sejarah

ACEH BESAR — Upaya menghidupkan kembali nilai-nilai kepahlawanan Teuku Panglima Polem IX sebagai fondasi pendidikan politik masyarakat dilakukan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Aceh Besar.

Kegiatan bertajuk “Revitalisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan Panglima Polem IX sebagai Media Pendidikan Politik Masyarakat” itu digelar di Kompleks Makam Teuku Panglima Polem, Gampong Lamsie, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (3/6/2026).
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut bertujuan menguatkan kesadaran sejarah sekaligus mendorong lahirnya budaya politik yang berakar pada nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat yang diwariskan Panglima Polem IX.

Wakil Ketua HIMAPOL FISIP USK yang sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Aulia Rahman, mengatakan sosok Panglima Polem IX tidak hanya layak dikenang sebagai pejuang anti-kolonial, tetapi juga sebagai teladan dalam membangun karakter warga negara yang bertanggung jawab dan berorientasi pada kepentingan publik.

“Panglima Polem IX merupakan simbol kepemimpinan, keberanian, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat. Nilai-nilai tersebut masih sangat relevan untuk diperkenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari pendidikan politik yang berakar pada sejarah dan budaya Aceh,” kata Aulia.
Menurutnya, pendidikan politik tidak sebatas memahami sistem pemerintahan maupun pemilu, tetapi juga membentuk kesadaran sosial, semangat kebersamaan, dan partisipasi aktif masyarakat dalam kehidupan demokrasi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan zikir dan doa bersama untuk para pahlawan, dilanjutkan dengan penyampaian materi pendidikan politik oleh akademisi Program Studi Ilmu Politik FISIP USK. Kegiatan turut melibatkan mahasiswa, dosen, tokoh masyarakat, tokoh agama, aparatur gampong, organisasi kepemudaan, Komite Peralihan Aceh (KPA), JASA Aceh Besar, serta masyarakat setempat.

Selain diskusi dan edukasi politik, peserta juga mengikuti gotong royong membersihkan kompleks makam pahlawan, penanaman pohon, pemberian santunan kepada anak yatim, hingga kenduri kuah beulangong sebagai bagian dari pelestarian tradisi dan penguatan silaturahmi masyarakat.

Aulia menegaskan keterlibatan lintas elemen masyarakat menjadi kunci dalam menjaga warisan sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu melahirkan kesadaran bersama untuk menjaga situs sejarah, memperkuat solidaritas sosial, serta mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua JASA Aceh Besar, Raisul Akram, menilai pelestarian nilai-nilai kepahlawanan merupakan tanggung jawab bersama agar sejarah perjuangan Aceh tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Generasi muda perlu memahami bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam menjaga persatuan, membangun masyarakat, dan merawat warisan sejarah Aceh,” kata Raisul.

Ia menambahkan, kolaborasi antara kalangan mahasiswa, organisasi masyarakat, dan tokoh lokal menjadi langkah strategis dalam memperkuat pendidikan politik berbasis sejarah dan kearifan lokal.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi HIMAPOL FISIP USK, Laboratorium Ilmu Politik FISIP USK, dan JASA Aceh Besar sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui program pengabdian kepada masyarakat.[]