Berita  

Idul Adha dan Hari Tasyrik Momentum Perkuat Taqwa dan Silaturahmi

Aceh Besar — Kepala Tata Usaha (KTU) UPTD Pengembangan Tilawatil Quran Dinas Syariat Islam Aceh, Tgk. Abdul Rani Adnan, MA, mengajak masyarakat memanfaatkan momentum Hari Raya Iduladha dan hari-hari tasyrik sebagai sarana memperkuat ketakwaan serta mempererat silaturahmi.

Selain iti, dalam khutbahnya di Masjid Babul Iman Lambheu, Kecamatan Darul Imarah (29/5/2026) ia menegaskan, Nabi Ibrahim AS merupakan sosok istimewa dalam Islam. Namanya selalu disandingkan dengan Nabi Muhammad saw dalam tahiyat akhir shalat.

“Keteladanan Nabi Ibrahim, khususnya dalam ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui peristiwa kurban, menjadikan keluarganya sebagai simbol keluarga bertakwa,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, suasana Idul Adha masih dirasakan hingga berakhirnya hari tasyrik pada 13 Zulhijjah. Di Aceh, sebagian masyarakat memaknai hari-hari tersebut sebagai waktu untuk menghentikan aktivitas tertentu, sebagai bentuk penghormatan terhadap hari raya.

Tradisi ini tidak hanya terkait larangan berpuasa pada hari tasyrik, tetapi juga dimaknai sebagai kesempatan memperkuat hubungan kekeluargaan.

“Momentum ini hendaknya dimanfaatkan untuk mengunjungi keluarga, guru, dan para sesepuh, serta mempererat hubungan dengan handai taulan,” ujarnya.

Menurutnya, setiap hari raya dalam Islam memiliki keistimewaan tersendiri. Pada Idul Fitri, umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Sementara pada Idul Adha, umat Islam diperintahkan berkurban sejak 10 hingga 13 Zulhijjah, yang juga dikenal sebagai hari tasyrik.

Ia menambahkan, hari tasyrik merupakan hari diharamkan berpuasa, namun dianjurkan memperbanyak zikir serta menikmati rezeki yang Allah berikan, termasuk daging kurban, minuman, dan buah-buahan.

Secara historis, istilah tasyrik berkaitan dengan proses penjemuran daging kurban pada masa Nabi, sebagai cara pengawetan sebelum adanya teknologi penyimpanan modern.

Lebih lanjut, Tgk. Abdul Rani mengajak masyarakat memuliakan hari-hari tersebut dengan menjamu tamu dan berbagi makanan kepada sesama, khususnya bagi yang memiliki kelapangan rezeki.

“Daging kurban boleh diolah dan disimpan, seperti dikeringkan, dimasukkan ke dalam lemari pendingin, atau diolah menjadi berbagai jenis makanan. Namun, pemanfaatannya harus tetap dalam koridor syariat dan tidak digunakan untuk hal-hal yang dilarang,” katanya.

Ia juga menekankan, tujuan utama ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi membangun ketakwaan kepada Allah. Pengorbanan harta dalam ibadah kurban, tidak akan mengurangi rezeki, justru menjadi sebab datangnya keberkahan dalam berbagai bentuk.

“Allah dapat menggantinya dengan kesehatan, kemudahan hidup, dan perlindungan dari berbagai musibah,” ungkapnya.

Ia mengingatkan pentingnya semangat tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, menjauhi kerja sama dalam dosa dan permusuhan, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an.

“Semoga semangat Idul Adha dan hari tasyrik mampu melahirkan pribadi-pribadi dermawan dan masyarakat yang semakin kuat dalam nilai-nilai keislaman,” pungkas Sekretaris Forum Imam Masjid Se Aceh ini.*