JAKARTA – Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Mahasiswa (DPN GEMA) Kosgoro mengecam keras aksi penganiayaan yang dilakukan oleh oknum anggota Brimob Polda Maluku terhadap seorang pelajar berinisial MTS (14).
Insiden tragis yang mengakibatkan hilangnya nyawa warga sipil ini dinilai sebagai sinyal kuat adanya degradasi moral dan profesionalisme di tubuh Korps Bhayangkara.
Ketua Bidang Kaderisasi DPN Gema Kosgoro, Agus Syarifudin, menyatakan bahwa kejadian ini merupakan pukulan telak bagi institusi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Menurutnya, tindakan represif oknum tersebut mencoreng semangat “Polri Presisi” yang selama ini didengungkan ke publik.
Alarm Keras bagi Reformasi Polri
Agus menekankan bahwa kasus di Maluku bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari rentetan kekerasan yang melibatkan anggota aktif. Hal ini memperparah krisis kepercayaan publik yang belum sepenuhnya pulih.
”Kejadian ini menjadi alarm bahwa Polri sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Di tengah munculnya diskursus publik agar Polri berada di bawah kementerian guna mendorong reformasi struktural, insiden seperti ini justru memperkuat alasan mengapa evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (21/2).
Tuntutan Hukum Maksimal dan Evaluasi Jabatan
Gema Kosgoro mendesak agar proses hukum terhadap oknum anggota Brimob tersebut dilakukan secara transparan dan tanpa kompromi. Agus meminta pelaku dijerat dengan hukuman maksimal guna memberikan efek jera serta rasa keadilan bagi keluarga korban.
”Tidak boleh ada lagi warga sipil, apalagi seorang pelajar di bawah umur, yang harus meregang nyawa akibat tindakan kriminal oknum polisi. Tugas polisi adalah mengayomi, bukan menghabisi,” tegasnya.
Selain proses pidana, Agus Syarifudin meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk melakukan langkah konkret berikut:
• Audit Internal: Memeriksa dan mengevaluasi kinerja seluruh jajaran di Polda Maluku hingga tingkat Polres.
• Pengawasan Melekat: Memperketat pengawasan terhadap anggota di lapangan, terutama satuan-satuan taktis yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
• Reformasi Kultural: Memastikan pendidikan karakter dan pengendalian emosi menjadi prioritas utama dalam pembinaan anggota aktif.
Konteks Kejadian
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban MTS (14) yang merupakan siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) meninggal dunia setelah diduga dianiaya secara brutal oleh oknum anggota Brimob. Kasus ini kini tengah menjadi sorotan publik luas, mengingat status korban yang masih di bawah umur dan tindakan pelaku yang dinilai di luar batas kemanusiaan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polda Maluku menyatakan telah mengamankan oknum tersebut dan berjanji akan memproses kasus ini sesuai dengan hukum yang berlaku, baik secara etik maupun pidana umum. (***)














