Bener Meriah – Yayasan Leuser Internasional (YLI) melakukan sosialisasi hasil baseline survey (studi awal) kesuburan dan keanekaragaman hayati tanah pada perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Jumat (13 Maret 2026).
Ketua Pengurus YLI, Said Fauzan Baabud menyatakan bahwa studi ini diharapkan menjadi langkah penting untuk memperbaiki praktik budidaya kopi.
“Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada produktivitas. Tetapi juga pada kesehatan tanah dan keberlanjutan ekologi perkebunan kopi arabika Gayo,” ujarnya.
Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memaparkan kondisi awal terkait kesehatan tanah sekaligus menjadi dasar untuk mengembangkan praktik perkebunan kopi yang ramah lingkungan dan lebih berkelanjutan.
Hasil studi yang dipaparkan oleh Dr. Muyassir menunjukkan bahwa kesuburan tanah tingkat sedang masih ditemukan di Bener Meriah. Namun untuk wilayah Aceh Tengah ditemukan kesuburan pada tingkat rendah.
Studi yang dilakukan pada pertengahan tahun 2025 tersebut mengindikasikan beberapa penyebab kurangnya tingkat kesuburan tanah di kebun kopi Gayo yaitu masih belum optimalnya ketersediaan pohon penaung dalam kebun kopi, jarak tanam penaung yang belum sesuai, perilaku petani dalam penggunaan herbisida dan pupuk kimia secara berlebihan, serta masih kurangnya pemahaman petani akan praktik budidaya kopi yang baik secara organik dan ramah lingkungan.
Wahyuddin perwakilan dari Bappeda Aceh Tengah menyampaikan, “Hasil studi ini sangat bermanfaat sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan program pengembangan kopi yang berkelanjutan di Aceh Tengah dan Bener Meriah, termasuk rekomendasi untuk memperkuat peran pemerintah daerah dalam memperbaiki praktik budidaya kopi sampai ke tingkat petani,” ujarnya.
Kegiatan ini dilaksanakan YLI bekerja sama dengan para tenaga ahli dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) yang dipimpin oleh Dr. Ir. Muyassir dengan dukungan dari Livelihoods Funds. Studi yang dilakukan mencakup analisis berbagai indikator kesuburan tanah, baik dari aspek biologis, fisik, maupun kimia.
Studi ini dilakukan di enam desa di Aceh Tengah dan sembilan desa di Bener Meriah dengan total sampling sebanyak 60 titik tanah (plot) kebun kopi yang mencakup 30 plot di masing-masing kabupaten menggunakan metode Purposive Sampling.
Win Temas Miko dari Universitas Gajah Putih (UGP) menanggapi bahwa studi ini sangat menarik.
“Ini bisa menjadi acuan untuk memahami pengaruh kerapatan penaung bagi kesuburan tanah dan juga penggunaan sampah rumah tangga untuk pupuk organik,” katanya.
Adapun Kegiatan sosialisasi ini berlangsung di kantor YLI di Wih Pesam Bener Meriah pada Kamis, 12 Maret 2026 yang dihadiri oleh dinas-dinas terkait dari pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Gayo, Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih, beberapa perwakilan produsen kopi swasta dan koperasi, Yayasan Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) termasuk para koordinator lapangan proyek agroforestri kopi LCF3 YLI.
Kegiatan sosialisasi ini kemudian ditutup dengan buka puasa bersama untuk mempererat silaturahmi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mendukung keberlanjutan kopi arabika Gayo. (Rifan)














